BERITA TERBARU

Selasa, 19 Februari 2013

ASTROS II MK6 : MLRS Multi Kaliber Armed TNI AD


ASTROS II at Indo Defence 2012
Bila ditinjau dari aspek jangkauan, roket begitu diandalkan sebagai senjata strategis, karena roketlah sosok Korea Utara dan Iran mempunyai daya deteren tinggi dimata rivalnya. Terkait dengan sista roket, TNI pun mendapat ‘angin segar’ dengan telah dibelinya ASTROS (Artillery Saturation Rocket System) II buatan Avibrás Aerospacial, manufaktur alutsista asal Brasil, pada kuartal keempat tahun lalu. ASTROS sendiri masuk dalam kelas MLRS (Multiple Launch Rocket System).
Hadirnya ASTROS II menjadikan kekuatan artileri medan (armed) TNI AD kini sejajar dengan AD Malaysia. Pasalnya Negeri Jiran ini telah jauh lebih dahulu mengoperasikan MLRS ini, yakni dimulai pada 2001, sejumlah perwira dan bintara dari Royal Artillery Regiment, Artillery Training Centre, Royal Ordnance Corps, dan Royal Electrical & Mechanical Corps dikirim ke Brasil untuk menyiapkan kedatangan 18 AV-LMU, 18 AV-RMD, 1 AV-VCC, 3 AV-PCC, 3 AV-UCF, 2 AV-MET (latih) and 3 AV-OFVE (varian perbaikan/recovery) – setara dengan tiga baterai. ASTROS II ditempatkan kedalam 51 Regiment Royal Artillery di Camp Gemas, Negeri Sembilan (Johor). Ketiga baterai tersebut dinamai berdasarkan nama-nama senjata: Baterai Alpha dinamai Keris, Baterai Bravo dinamai Panah, dan Baterai Charlie dinamai Tombak. Pada Januari 2006, setelah kedatangan 18 tambahan ASTROS II dengan total pengadaan (36 unit) sebesar 791 juta RM, 51st Regiment dinyatakan operasional penuh dan ditempatkan dibawah Army Field Command HQ, dari yang tadinya ada dibawah 3rd Division. Pengorganisasian ini memiliki makna bahwa ASTROS II ditempatkan sebagai senjata strategis dengan kemampuan menjangkau lawan, dan diperkirakan akan dipergunakan sebagai respon pertama yang akan diturunkan seandainya Malaysia mendapatkan serangan dari musuh.
ASTROS II MK5 milik AD Malaysia
ASTROS II MK5 milik AD Malaysia
Meski tertinggal beberapa tahun dari Malaysia, dengan anggaran US$405 juta akhirnya RI telah melakukan finalisasi untuk mendatangkan sekitar 36 unit ASTROS II MK6. Dan sebagai ‘persembahan’ kepada rakyat Indonesia, sista ini telah dipamerkan dalam ajang Pameran Alutsista TNI AD 2012 di Lapangan Monas (Oktober 2012) dan di Indo Defence 2012 pada bulan berikutnya. Kemunculan ASTROS memang mampu membetot banyak perhatian khalayak, terutama bila peluncur roket diaktifkan, jelas ASTROS Nampak sangar, setidaknya MLRS bseutan Negeri Samba ini tampil beda dengan yang sering dilihat publik Tanah air, seperti RM-70 Grad milik Korps Marinir TNI AL, ASTROS Nampak futuristik.
Di mata Armed TNI AD sebagai user roket ini, ASTROS merupakan lompatan penting dalam hal adopsi teknologi baru, inilah sista yang mampu menembakkan roket multi laras dengan kaliber 127mm hingga 300 mm. Agar tak salah mengerti, ASTROS II pada hakekatnya adalah sebuah sistem lengkap. Terdiri dari komponen kendaraan peluncur, disebut sebagai AV-LMU (Universal Multiple Launcher), kemudian ditunjang dengan kendaraan pembawa/re-supply amunisi (AV-RMD), dimana AV-RMD mempunyai kapasitas angkut sebanyak dua kali untuk pengisian tiap AV-LMU.
Sedangkan untuk elemen pengendali tembakkan, dipercayakan kepada varian ranpur komando AV-VCC yang dilengkapi peralatan komunikasi untuk mengkoordinasikan sampai tiga baterai ASTROS II. Paketnya makin lengkap lagi jika unit kendali penembakan AV-UCF juga diturunkan. Dilengkapi radar dan komputer penembakan, AV-UCF berperan sebagai FDC (Fire Direction Center) bagi unit AV-LMU. Kehadiran AV-UCF dapat meningkatkan persentase perkenaan secara signifikan dan memperpendek waktu serangan. Tapi bila kepepet, menurunkan AV-LMU tanpa unit lainnya pun tak masalah, dengan konsekuensi regu artileri harus menurunkan satu forward observer untuk mengoreksi arah jatuhnya roket. Menurut Avibras, pakem baterai ASTROS II yang ideal adalah 6 AV-LMU yang didukung 6 AV-RMD dan satu AV-UCF. Satu AV-VCC bisa ditempatkan di level batalyon, dengan dukungan dua kendaraan recovery/repair untuk memperbaiki kerusakan. Tiap baterai bisa melontarkan roket yang mencakup 200km2 bila seluruh roket, termasuk munisi isi ulang.
Dalam satu baterai ASTROS II, terdiri dari 13 kendaraan, dengan perincian 6 unit kendaraan peluncur roket, 6 unit truk pembawa roket, dan 1 unit kendaraan yang dilengkapi radar dan system kontrol peluncuran/penembakkan. Sedangkan sebagai platform kendaraan pengangkut dipercayakan kepada jenis truk Tectran VBT-2028 6×6 yang memiliki mobilitas tinggi pada berbagai kondisi medan.
Multi Kaliber
Dengan konsepnya yang multi kaliber, menjadikan ASTROS II sangat fleksibel untuk menggasak aneka target dengan jangkauan yang berbeda. Avibras mendesain sistem roket ASTROS secara modular, sehingga mudah dikonfigurasi di lapangan sesuai kebutuhan. Roket-roket yang ada dimuat dalam kontainer yang pada gilirannya tinggal dimuat kedalam kotak peluncur di atas sasis ASTROS II, memudahkan penyimpanan roket sekaligus lebih aman dari guncangan. Sistem pengisian ulang (reloading) munisi Astros ini sangatlah mudah, untuk satu set munisi yang dibawa oleh satu kendaraan Astros hanya dibutuhkan waktu 8 hingga 12 menit saja.
Proses reload amunisi pada ASTROS 
II
Proses reload amunisi pada ASTROS II
Sistem senjata terpadu dan jenis 
roket dalam ASTROS II
Sistem senjata terpadu dan jenis roket dalam ASTROS II
avibrasastros2
ASTROS_a1
Ada 4 macam roket yang dipersiapkan Avibras, yang semua motor roketnya ditenagai oleh double-base propellant. Kaliber terkecilnya adalah 127mm SS-30, yang terpasang sebanyak 32 tabung per kotak peluncur. Roket berhulu-ledak HE (High Explosive) dengan panjang 3,9m dan berbobot 68kg sebuahnya ini mampu menjangkau sasaran sejauh 30km. Roket kedua, SS-40, memiliki kapasitas maksimal 16 roket dalam satu tabung peluncur. Selongsong roketnya memiliki empat sirip (fins) dengan panjang 4,2m dan berbobot 152kg sebuahnya. Jarak jangkaunya antara 15-35 km. Soal hulu ledak, SS-40 cukup fleksibel. Jika mau HE ada, bila memilih munisi cluster/ bomblet (tandan) DP (Dual Purpose) anti material dan personil juga tersedia. Khusus untuk munisi bomblet, dimensinya adalah 39x13cm, dengan sumbu impak mekanis. Tiap bomblet dilengkapi pita-parasut yang berfungsi menahan dan menstabilkan arah jatuhnya. Kategori ketiga, ada SS-60 yang merupakan pengembangan dari SS-40. Punya sosok lebih besar sepanjang 5,6m dan berbobot 595kg, konsekuensinya SS-60 bisa menampung 65 bomblet. Jangkauannya antara 20-60km dengan waktu tempuh 117 detik untuk mencapai jarak maksimal 60 km. Dalam satu kendaraan peluncur, dapat memuat hingga 4 roket SS-60.
Roket terakhir, yaitu SS-80, lahir belakangan pada 1995, dengan sosok yang tak jauh beda dengan SS-60. Daya jangkaunya yang mencapai 90 km dimungkinkan berkat propelan baru. Selain itu, SS-80 bisa dimuati senjata kimia mematikan, walaupun jenis roket yang terakhir ini belum pernah dipergunakan dalam pertempuran aktual. Tak berhenti di 4 kaliber diatas, Avibras juga mengembangkan SS-150 dengan muatan 4 unit roket kaliber 300 mm, jangkauan tembak minimumnya 29 km dan maksimum 150 km. Bahkan ada lagi varian AV/MT-300 MT, daya jelajahnya bisa menjangkau 300 km, sebuah jangkauan tembak yang mampu merubah tatanan strategi militer di kawasan. Namun yang disebut terakhir ini bukanlah roket, melainkan sebuah rudal!
Rudal jelajah AV/MT-300 yang dapat
 diluncurkan dari ASTROS II. Dalam satu peluncur dapat membawa 2 unit 
rudal.
Rudal jelajah AV/MT-300 yang dapat diluncurkan dari ASTROS II. Dalam satu peluncur dapat membawa 2 unit rudal.
Melontarkan Rudal, Geterkan Kawasan
Seandainya Indonesia atau Malaysia memiliki rudal AV/MT-300 MT pada ASTROS, maka dampaknya di kawasan mungkin bisa serupa dengan kehadiran rudal Yakhont TNI AL. AV/MT-300 adalah rudal jelajah ekonomis yang tabirnya mulai disingkap pada Oktober 2001. Avibras mendesain AV/MT-300 berbekal inertial navigation system yang memanfaatkan GPS yang dikoreksi laser, sehingga menjamin akurasi maksimal yang bisa diraih. Hulu ledak yang dibawa, sebesar 200 kg, cukup untuk meluluhlantakkan apapun yang dihantamnya. Soal peluncur, satu AV-LMU bisa menggotong dua AV/MT-300 tanpa persiapan yang lama. Dan yang paling menggiurkan tentu soal banderol harga: satu unit AV/MT-300 hanya dibanderol US$8.000-10.000 perbuahnya.
astros7
Sudah Teruji
ASTROS II sudah digunakan oleh Angkatan Darat Brasil sejak tahun 1983. Pihak asing yang sudah membuktikan kemampuan sistem peluncur roket ini contohnya adalah Irak. Angkatan Darat Irak menggunakan ASTROS II pada Perang Teluk 1991, namun pihak Arab Saudi juga menggunakan unit sistem yang sama untuk melawan Irak. Pihak militer Angola juga menggunakan ASTROS II untuk mengalahkan UNITA. Di Asia Tenggara, hanya Indonesia dan Malaysia yang punya sista ini, bedanya AD Malaysia sudah lebih dulu mengoperasikan dengan versi MK5. (Diolah dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar