BERITA TERBARU

Kamis, 03 Januari 2013

Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG

"Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG "

















Foto dan Gambar Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG 














Foto dan Gambar Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG  

















Foto dan Gambar Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG 












Foto dan Gambar Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG 
















Foto dan Gambar Jenis-Jenis Senjata MILITER untuk TEMPUR/PERANG   

AGM 65 Maverick: Rudal udara ke darat

agm-maverick.jpg
AGM 65 Maverick adalah sebuah peluru kendali udara ke darat ( Air to Ground ) yang dirancang untuk keperluan dukungan udara. Rudal ini diproduksi oleh Hughes Aircraft Corporation, Raytheon Corporation, Amerika. Dan mulai dipakai sejak tahun 1972. Rudal ini efektif dipakai untuk banyak target seperti kendaraan lapis baja, pertahanan udara ( bunker ), kapal dan fasilitas darat lainnya. Rudal Maverick memiliki bentuk silindris dan memiliki ujung yang terbuat dari gelas untuk pemandu elektro-optik atau seng sulfida untuk pemandu inframerah, sayapnya berbentuk delta serta hulu ledak yang terletak di bagian tengah. Sistem penembakan rudal ini "Fire and Forget" yang artinya setelah rudal diluncurkan, sistim penginderaan rudal akan bekerja sendiri untuk menghajar target yang telah ditentukan sebelumnya.
AGM 65 Maverick memiliki dua macam hulu ledak yaitu yang memiliki pemicu kontak di ujung dan yang memiliki pemicu dengan interval yang menembus target dengan energi kinetik sebelum meledak. Model terakhir lebih efektif untuk target yang keras dan besar. Sistem mesin untuk kedua model memakai motor roket berbahan bakar padat.
Beberapa varian dari rudal AGM 65 Maverick diantaranya
  • AGM-65A
    Memiliki pemandu elektro-optik . Setelah kubah pelindung dicabut dan sirkuit videonya diaktifkan, tampilan yang dilihat oleh sistem pemandu akan muncul di layar kokpit. Pilot kemudian memilih target, mengunci target kemudian rudal ditembakkan.
  • AGM-65B
    Mirip dengan model A dengan pengembangan pada sistem televisinya yang memungkinkan pilot untuk memperbesar layar (zoom) untuk mengidentifikasi target yang kecil.
  • AGM-65D
    Memiliki pemandu inframerah , yang memungkinkan penggunaan pada malam hari atau cuaca buruk, pembidik inframerahnya juga dapat melacak panas yang dihasilkan oleh target.
  • AGM-65E
    Memiliki pemandu laser yang digunakan korps marinir. Rudal akan melacak laser yang dipantulkan. Jika pantulan laser tidak lagi dideteksi, rudal akan terbang melewati target dan tidak akan meledak.
  • AGM-65F
    Memiliki 136 kg hulu ledak yang digunakan oleh angkatan laut serta pemandu elektro-optik yang dioptimalkan untuk target kapal.
  • AGM-65G
    Mirip dengan model D, tetapi memiliki hulu ledak berat dibandingkan dengan model A, B dan D yang shaped-charge.
agm-65-maverick.jpg
Spesifikasi teknis Rudal AGM 65 Maverick
  • Mesin : Thiokol TX-481 dengan motor roket berbahan bakar padat berpendorong ganda
  • Berat :
    207,9 kg (AGM 65A/B)
    218,25 kg (AGM 65D)
    301,5 kg (AGM 65G)
    286 kg (AGM 65E)
    301,5 kg (AGM 65F)
  • Panjang : 2,55 meter
  • Diameter : 30,48 cm
  • Bentang sayap : 71,12 cm
  • Kecepatan : 1.150 km/jam
  • Jangkauan :
    27 km ( ketinggian tinggi )
    13 km ( ketinggian rendah )
  • Hulu ledak :
    56,25 kg (AGM 65A/B)
    135 kg (AGM 65G)
    56,25 kg (AGM 65E)
    135 kg (AGM 65F)
  • Sistem pemandu :elektro-optik, inframerah dan laser
  • Platform : Pesawat
sumber Wikipedia

AK-725 : Meriam Laras Ganda Kaliber 57mm Korvet Parchim TNI AL


Meski usia korvet Parchim milik TNI AL tak muda lagi, tapi untuk kelengkapan senjatanya masih tergolong mematikan, baik untuk peran anti kapal selam dan peran anti serangan udara. Bicara tentang elemen penangkis serangan udara, selain ada kanon reaksi cepat AK-230 dan rudal mistral Simbad, masih ada lagi sosok sangar yang berada di sisi buritan, tak lain adalah meriam laras ganda AK-725 kaliber 57 mm.
Tampilan meriam AK-725 terbilang mencolok, dan mudah dikenali dari kejauhan dari bentuk kubahnya yang khas, dan terkesan futuristik. AK-725 atau disebut juga ZIF-72 merupakan senjata andalan Uni Soviet semasa era Perang Dingin. Desain AK-725 pertama kali disetujui oleh pemerintah Soviet pada 24 Mei 1958, dan prototipe meriam ini pertama kali dirampungkan pada 1960. Kemudian pertama kali dioperasikan oleh AL Uni Soviet mulai tahun 1963.
Meriam AK-725 dengan latar pengendali tembakan Muff Cob
Tampilan 3 dimensi AK-725
Di lingkungan TNI AL, setidaknya populasi meriam ini mencapai 16 pucuk, pasalnya ada 16 korvet TNI AL yang masing-masing dibekali satu pucuk AK-725 pada buritan. Selain untuk Parchim, sebenarnya AK-725 juga disematkan pada LST (landing ship tank) kelas Frosch, yang juga sama-sama buatan Jerman Timur, dan dibeli dalam satu paket oleh pemerintah RI bersamaan dengan armada kapal penyapu ranjau kelas Condor. Di Frosch, AK-725 bisa ditempatkan pada sisi haluan maupun buritan, tapi entah mengapa setelah menjadi milik TNI AL, AK-725 digantikan oleh meriam Bofors 40 mm.
Lalu apakah kehandalan meriam ini? Selain mumpuni untuk melahap target di udara, meriam ini juga afdol mengganyang target di permukaan laut. Punya jaraktembak maksimum untuk target horizontal mencapai 13.200 meter, dengan jarak tembak efektifnya 9.000 meter. Sedangkan jarak tembak maksimum untuk target vertikal mencapai 6.700 meter, dengan jarak tembak efektif 5.000 sampai 6.000 meter. Kecepatan luncur proyektil mencapai 1.020 meter per detik. Kecepatan gerak laras dalam merespon target pun terbilang cepat, yakni 30 derajat per detik. Kedua laras dapat digerakkan menuju target dengan sudut elevasi -10 sampai 85 derajat.
Tampilan sisi buritan korvet Parchim
AK-725 menjadi identitas khas pada sisi buritan korvet Parchim TNI AL
Karena kaliber yang lebih besar, muntahan proytil AK-725 tidak bisa sebanyak AK-230 yang tergolong CWIS (close in weapon system) dengan kecepatan tembak 1.000 proyekil per menit. AK-725 yang berkaliber 57 mm hanya sanggup melontarkan 100 proyektil per menit pada tiap larasnya. Tapi toh memang daya rudak dan jangkauan tembak keduanya juga berbeda, soal yang satu ini AK-725 tentu lebih menakutkan. Untuk mendinginkan laras, digunakan solusi pendingin dari air.
Untuk melibas target yang bermanuver dinamis, Kendali akurasi tembakan mengandalkan Muff Cob, dan sebuah perangkat pengarah optik di dekat antenna Muff Cob. Perangkat pengendali tembakan Muff Cob bentuknya terbilang khas, mirip drum atau antena microwave pada menara BTS (base transceiver station) operator selular. Lebih spesifik lagi, pada menara Muff Cob ditempatkan logo Satkor (satuan eskorta) TNI AL. Inti dari satuan eskorta terdiri dari kapal-kapal jenis frigat dan korvet.
LST Frosch saat belum menjadi milik TNI AL, dilengkapi AK-725 pada sisi haluan (depan anjungan)
LST kelas Frosch milik TNI AL, salah satunya KRI Berau 534, nampak menggantikan posisi AK-725 dengan Bofors 40mm

Lebih dalam lagi tentang meriam berlaras ganda ini, kubah dapat melintas (berputar) hingga 200 derajat. Bobot meriam ini keseluruhan mencapai 3.825 kg dengan berat per amunisi mencapai 5 kg. Di dalam kubah yang terbuat dari bahan metal ini dapat menampung total 1.100 amunisi. Berat keseluruhan, mulai dari meriam, menara radar MR 103, dan sistem pengendali tembakan mencapai 25.000 kg.

UAV WULUNG : Pesawat Pengintai TNI Karya Anak Bangsa

Pesawat UAV Wulung
Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) atau Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) Wulung merupakan Pesawat UAV (Unmanned Aero Vehicle) karya anak bangsa hasil pengembangan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pesawat ini telah berhasil melakukan uji terbang di pangkalan udara TNI AL Halim Perdanakusumah, Jakarta pada 11 oktober 2012, dan selanjutnya akan diproduksi masal oleh PT Dirgantara Indonesia untuk bergabung dalam Skuadron PUNA yang akan dibentuk pada tahun ini.
PUNA Wulung berfungsi untuk pengintaian dan penginderaan jarak jauh dari udara, hal ini didukung dengan penggunaan kamera pada pesawat yang langsung dapat mengirimkan data dari kondisi di darat dan udara ke stasiun pengamat di darat secara real time.
puna-wulung1.jpg
Pesawat Terbang Tanpa Awak Wulung terbuat dari Bahan komposit (serat kaca, fiber dan karbon) dengan Spesifikasi rentang sayap 6,36 meter, panjang 4.32 meter, tinggi 1.32 meter, serta berat 120 Kg. Untuk tenaga pendorong, pesawat ini memakai mesin 2 tak dengan bahan bakar jenis pertamax. Pesawat mampu terbang selama 4 jam tanpa henti. Jarak tempuh maksimalnya 70 kilometer, dengan kecepatan jelajah 52 - 69 knot, pesawat ini memiliki jarak kendali 73 km dari remote control dengan ketinggian terbang 12 ribu kaki.

SEJARAH PERANG MALVINAS / FALKLAND


Klaim teritorial oleh negara bekas jajahan terhadap wilayah yang telah lama diyakini sebagai bagian dari bekas negara si penjajah bukanlah suatu isu baru yang melanda dunia politik internasional; salah satu contohnya dikenal dengan nama “Perang Malvinas/Falkland”.

Perang Malvinas/Falkland terjadi pada periode April - Juni 1982 akibat perselisihan antara Argentina dan Inggris dalam memperebutkan pulau Malvinas (sebutan bagi Argentina) atau Falkland (bagi Inggris) setelah perundingan yang alot selama bertahun-tahun dan mencapai puncaknya setelah kebuntuan perundingan diantara keduanya pada Februari 1982.

Kekecewaan pihak Argentina serta pengurangan kekuatan militer dan pengawasan Inggris atas Malvinas/Falkland memberikan kesempatan kepada Argentina untuk memikirkan langkah militer dalam mencapai tujuannya. Langkah pertama yang diambil oleh pihak Argentina untuk memulai konflik yaitu dengan mengibarkan bendera Argentina di South Georgia pada 19 Maret 1982 yang kemudian dilanjutkan dengan serangan ke Malvinas/Falkland Timur dan menduduki Port Stanley pada 2 April 1982. Selanjutnya sebagaimana diketahui, serangan Argentina ini dibalas Inggris dengan serangan yang lebih dasyat sampai akhirnya Malvinas/Falkland berhasil direbut kembali oleh Inggris.

Kepentingan Nasional Argentina
Perang Malvinas/Falkland mengusung kepentingan negara (politik prestise untuk memperbaiki dan meraih kehormatan nasional) sebagai alasan dilegalkannya keputusan untuk merebut kembali Malvinas/Falkland dari tangan Inggris melalui langkah militer setelah perundingan dengan Inggris mengenai masalah ini dianggap gagal. Namun apakah perang ini murni pecah karena alasan tersebut di atas?

Argentina menganut sistem pemerintahan otoriter yang berada di bawah komando junta militer, dimana keputusan politik dan kebijakan yang diambil terfokus pada kelompok militer yang berkuasa, yang dalam hal ini adalah presiden dan jenderal-jenderal militernya yang berperan sebagai pendukung serta tidak melalui pertimbangan perwakilan rakyat sehingga kemungkinan diambilnya keputusan irrational sangat besar. Namun, mengapa keputusan pengambilan langkah-langkah militer ini tidak diambil jauh sebelumnya? Padahal bila dilihat dari kondisi politik, sosial, dan ekonomi; kondisi Argentina pada masa presiden-presiden sebelumnya dibandingkan dengan masa pemerintahan Jenderal Galtieri tidak jauh berbeda bahkan kondisi Argentina jauh lebih buruk saat diambilnya keputusan untuk berperang. Apakah ada aktor yang berperan dibalik pecahnya perang Malvinas/Falkland ini?

Berdasarkan Teropong Kompas, 28 Mei 2007 disebutkan bahwa alasan umum penyerangan yang dilakukan oleh pihak Argentina dikarenakan adanya perasaan memiliki karena jarak yang dekat dengan wilayah utama Argentina dan juga dikarenakan pihaknya merasa sebagai pewaris kedaulatan pemerintah Spanyol di Malvinas/Falkland yang gagal mempertahankan wilayahnya pada 1810 sehingga Malvinas/Falkland dikuasai oleh Inggris. Namun di paragraf lain juga disebutkan bahwa sejumlah pihak melihat bahwa motivasi utama Argentina melancarkan perang ini adalah untuk mengalihkan ancaman terhadap rezim Jenderal Leopoldo Galtieri yang sedang mendapat tekanan dari berbagai penjuru karena dituduh melancarkan ”perang kotor”, dimana 15.000 sampai 30.000 rakyat sipil Argentina dibunuh atau hilang, selain karena ekonomi buruk.

Major Darren More dalam jurnalnya ”Rear Admiral Woodward : Political Influence During The Falkland War “ juga menyebutkan alasan serupa dimana ia beranggapan bahwa alasan Argentina memilih untuk berperang dilakukan untuk mengalihkan perhatian publik dari masalah ekonomi dan politik dalam negeri yang semakin berkembang. Dari sini terlihat bahwa kepentingan politik penguasa sangat kental dalam pengambilan keputusan untuk berperang.

Serangan Argentina juga dilakukan karena perhitungan jarak antara Malvinas/Falkland - Argentina dan Malvinas/Falkland - Inggris. Jarak yang jauh antara Malvinas/Falkland – Inggris membuat Jenderal Galtieri yakin bahwa Inggris tidak akan bersusah payah untuk menanggapi pendudukan Malvinas/Falkland dengan kekuatan militer ditambah bahwa Malvinas/Falkland bukanlah daerah yang strategis bagi kepentingan Inggris karena posisi, kondisi, dan sumber daya alam yang tidak menguntungkan. Ditambah lagi kekuatan militer Inggris di Malvinas/Falkland telah mengendur.

Respon Inggris
Kemungkinan pendudukan Malvinas/Falkland oleh Argentina merupakan suatu hal yang diperkirakan oleh Inggris. Hal ini juga diutarakan oleh Major Darren More dalam jurnalnya menyebutkan bahwa berbagai komite pertahanan Inggris mengakui bahwa penyusutan kekuatan Inggris berarti bahwa Malvinas/Falkland tidak memiliki pertahanan sehingga akan sangat mudah bagi Argentina untuk menduduki Malvinas/Falkland dengan kekuatan militer. Dari situ dapat dilihat bahwa Inggris secara sadar menurunkan kekuatannya, namun kondisi dalam negeri Argentina sangatlah buruk dan ditambah kenyataan bahwa Inggris merupakan negara tujuan ekspor produk pertanian Argentina serta merupakan salah satu importir persenjataan militer Argentina, agaknya Inggris menganggap bahwa Argentina bukanlah sebuah ancaman yang berarti dan kemungkinan Argentina untuk merebut Malvinas/Falkland sangatlah kecil. Namun, perhitungan tersebut ternyata meleset.

Keputusan Inggris menanggapi serangan Argentina dengan serangan balasan menurut tidak bisa lepas dari andil Margareth Thatcher sebagai perdana menteri Inggris saat itu. Diplomasi tidak menjadi prioritas utama karena menganggap pendudukan itu merupakan pelanggaran keras terhadap kedaulatan Inggris dan pada saat itu pemerintahan Thatcher juga tengah mengalami penurunan popularitas di Inggris sehingga penggelaran kekuatan militer Inggris di Malvinas/Falkland merupakan kesempatan yang bagus bagi Thatcher untuk meningkatkan popularitasnya menjelang pemilihan umum di Inggris pada tahun 1983.

Ninok Leksono dalam Teropong Kompas menyebutkan bahwa Thatcher berusaha untuk membela hak kedaulatannya dengan menegaskan bahwa kedaulatan didasarkan pada hak penentuan nasib sendiri bagi warga Malvinas/Falkland yang beretnik Inggris. Namun disisi lain ia juga menyebutkan bahwa pada saat itu Inggris sedang memerlukan alat pemersatu ketika negara tersebut sedang dirundung kesulitan akibat kebijakan fiskal dan ekonomi pemerintahan Konservatif. Major Darren More sendiri dalam jurnalnya menyebutkan bahwa tindakan yang diambil oleh Inggris mencerminkan kegagalan politik dan diplomasi dalam penyelesaian perselisihan panjang dengan Argentina menyangkut Malvinas/Falkland dan pengiriman pasukan militer Inggris merupakan pengalihan perhatian publik terhadap kegagalan tersebut.

Pengaruh AS
Amerika Serikat merupakan tokoh lain yang ternyata cukup berperan dalam pecahnya perang Malvinas/Falkland. Argentina mengklaim bahwa AS tidak akan ikut campur dalam tindakan Argentina terhadap Malvinas/Falkland. Namun, perhitungan Argentina tersebut ternyata meleset. Amerika ternyata lebih memihak Inggris dan bahkan memberikan bantuan kepada Inggris dalam mengambil alih kembali Malvinas/Falkland dari tangan Argentina dalam bentuk intelijen dan material. Pengaruh AS terhadap organisasi negara-negara Amerika dan Amerika Latin yang pada dasarnya mendukung Argentina membuat anggota organisasi tidak bisa mengambil langkah konkret. Inggris juga mendapatkan dukungan dari masyarakat Eropa pada umumnya. Misalnya Perancis yang mengembargo senjata ke Argentina sehingga kemampuan militer Argentina terpangkas drastis. Hal tersebut jelas membuat Argentina yang berharap adanya persatuan sesama warga hemisfer (selatan) di pihak AS atau sekurang-kurangnya sikap netral sangat kecewa dengan tindakan AS.

Salah Perhutungan
Perang Malvinas/Falkland merupakan perang yang sarat dengan kepentingan politik penguasa. Namun perang ini tidak mungkin tercetus tanpa adanya kesempatan. Pengenduran kekuatan Inggris di Malvinas/Falkland memberikan kesempatan bagi pihak Argentina untuk melakukan pendudukan atas Malvinas/Falkland. Selain itu, pengaruh tokoh politik sangat berperan dalam pengambilan keputusan untuk berperang maupun keputusan lainnya yang menyangkut dengan konflik tersebut. Perang ini cukup irrational mengingat perbedaan kekuatan yang sangat mencolok diantara keduanya, dimana seharusnya Argentina tahu bahwa kecil sekali kemungkinan untuk menang melawan sebuah negara kolonial yang besar seperti Inggris. Hal ini tentunya dapat timbul karena adanya irrational actor yang berperan dalam pengambilan keputusan ini.

Kondisi ini oleh Jorge Luis Borges, seorang kolumnis Argentina digambarkan sebagai ”dua orang buta yang memperebutkan sisir”. Memperbutkan Falkland/Malvinas adalah sebuah bentuk representasi ego mengalahkan perhitungan-perhitungan rasionalitas. Konteksnya, Argentina pada zaman itu relatif sedang mensejajarkan dirinya dengan negara-negara Eropa, khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam konteks itu, mengembalikan Malvinas adalah sebuah tindakan untuk meningkatkan harga diri bangsa.

Perang Malvinas/Falkland juga tercetus karena adanya kesalahan perhitungan dari pihak Argentina maupun pihak Inggris, serta adanya pengaruh AS pada keduanya. Pada akhirnya yang dirugikan bukan hanya pihak yang kalah tetapi juga pihak yang menang, namun yang diuntungkan adalah segelintir kecil tokoh-tokoh yang berada di balik peristiwa ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ninok Leksono.Teropong:Kenangan 25 Tahun Perang Malvinas.Senin, 28 Mei 2007. http://202.146.5.33/kompas-cetak/0705/28/teropong/3559326.htm
Major Darren Moore. Rear Admiral Woodward: Political Influences during the Falklands War. Australian Defence Form Journal: Journal of Profession of Arms.